[Review Film] A Man and A Woman – Korean Movie

a-man-and-a-woman_poster_goldposter_com_1

Pada suatu hari di musim dingin, Sang Min (Jeon Do Yeon) dan Ki Hong (Gong Yoo) dipertemukan tanpa sengaja di Finlandia. Sang Min menghampiri Ki Hong yang sedang berdiri di tengah hujan salju dan meminta korek untuk menyalakan rokoknya. Kedua orang asing ini baru saja melepas anak mereka untuk mengikuti camp spesial untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sang Min melepas putranya yang autis dan Ki Hong melepas putrinya yang mengidap depresi di usia dini.

Sang Min datang ke Helsinki, Finlandia hanya karena ingin mengantarkan putranya untuk mengikuti camp tersebut. Ia tidak suka dengan cuaca dinginnya, tidak suka dengan salju yang turun sepanjang waktu, dan tidak suka dengan suasananya yang sangat sepi. Sementara itu, Ki Hong adalah seorang arsitektur yang sedang ditugaskan di Helsinki dan tinggal bersama keluarga kecilnya. Berbeda dengan Sang Min yang tegas, Ki Hong adalah seorang laki-laki yang samar dan tidak bisa menyatakan pendapatnya secara gamblang.

Keduanya kemudian memutuskan untuk mengecek lokasi menginap putra dan putri mereka. Perbedaan sifat di antara keduanya membuat mereka tidak bisa berbicara banyak, namun anehnya keheningan tersebut justru membuat mereka nyaman. Sang Min menyebut Ki Hong sebagai laki-laki yang tidak banyak bicara dan terbiasa untuk memberi jawaban samar, yang kemudian hanya dibalas Ki Hong dengan senyum. Ketika sampai di lokasi camp, Ki Hong menunjukkan di mana letak penginapan anak-anak mereka dan Sang Min memutuskan untuk kembali pulang saja.

Di perjalanan pulang, salju turun dengan derasnya dan menutupi jalan. Mereka terjebak di sebuah restoran sekaligus penginapan dan harus tinggal semalam di sana. Baik Sang Min dan Ki Hong sudah mulai nyaman dengan kehadiran masing-masing, namun masih enggan untuk membuka diri. Keesokan paginya, mereka memutuskan berjalan-jalan di sekitar lokasi penginapan dan menemukan sebuah kabin dengan sauna di dalamnya. Di tempat ini, perasaan di antara mereka berdua semakin kuat. Mereka tahu bahwa mereka sudah menikah dan memiliki anak, tetapi mereka tidak bisa menolak dorongan kuat untuk bersama di kabin tersebut. Sang Min dan Ki Hong pun kemudian berpisah tanpa tahu nama masing-masing.

Delapan bulan kemudian, Sang Min yang sudah kembali ke Korea sedang sibuk mengatur butik yang menjadi bisnis keluarganya ketika ia melihat Ki Hong melintas di depan butik. Sang Min kemudian memanggil Ki Hong dan bertanya apa yang sedang ia lakukan di Korea. Mengingat keduanya tidak tahu nama masing-masing dan tanpa sengaja dipertemukan kembali, mereka pun memutuskan untuk berkenalan. Ternyata, Ki Hong sedang mengerjakan sebuah proyek galeri yang letaknya tidak jauh dari butik milik Sang Min.

Hubungan di antara Sang Min dan Ki Hong semakin mendalam dan juga semakin menyakitkan. Bagi Sang Min, Ki Hong adalah rumah yang nyaman untuk pulang karena bersamanya Sang Min bisa menjadi dirinya sendiri. Lepas dari tekanan dan stress yang ditimpakan kepadanya. Memiliki seorang anak yang autis bukanlah hal yang mudah dan ada kalanya Sang Min seolah ingin menyerah saja. Bersama Ki Hong, Sang Min bisa melupakan semua itu dan ia selalu berharap waktu bisa berhenti setiap kali sedang berdua dengan Ki Hong.

Sementara itu, bagi Ki Hong, Sang Min adalah belahan jiwanya. Ia jatuh cinta pada Sang Min di saat yang salah. Ki Hong tidak bisa sepenuhnya mencintai istrinya dan juga anaknya. Ki Hong menikah di usia muda dengan istrinya yang memiliki emosi tidak stabil dan selalu bergantung kepadanya. Anak perempuannya pun menderita depresi akut sebagai efek dari emosi yang tidak stabil dari ibunya. Bersama dengan istrinya, Ki Hong lebih banyak berperan sebagai ‘penjaga’ untuk mengawasi setiap tingkah laku istrinya dibanding sebagai suami. Ia tidak pernah merasakan cinta.

Di sinilah letak konflik dari film A Man and A Woman. Penonton akan diajak untuk menyaksikan bagaimana pergolakan batin dari Sang Min dan Ki Hong yang sangat ingin bersama namun kondisi tidak memungkinkan untuk itu. Bagaimana Ki Hong harus menahan perasaannya, bagaimana keduanya harus kembali lagi pada keluarga mereka meski hati mereka ingin bersama, dan bagaimana setiap keputusan yang diambil akan menyakiti banyak pihak. Dengan latar Finlandia yang dingin dan juga Korea di musim semi, film ini mampu menarik perasaan terdalam penonton dan ikut menangis ketika tokoh utama di film menangis.

Film yang disutradarai oleh Lee Yoon Ki ini bisa dibilang sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Tidak hanya dengan jalan ceritanya yang realistis, tetapi juga dengan alunan instrumen sepanjang film yang sangat melankolis. Finlandia pun ditampilkan dengan sangat ciamik, dingin sekaligus magis di saat yang bersamaan. Akting kedua tokoh utama, yakni Jeon Do Yeon dan Gong Yoo, sangat kuat dengan racikan chemistry yang pas. Keduanya berhasil memerankan tokoh orang dewasa yang sudah menikah, namun jatuh cinta lagi di saat yang salah. Penonton akan ikut merasakan sakitnya menahan perasaan seperti yang dilakukan Ki Hong dan tanpa sadar meneteskan air mata saat Ki Hong berusaha keras untuk tidak menangis ketika melihat Sang Min datang kembali ke Helsinki untuk menemuinya.

Ending film ini cukup masuk akal dan tidak berlebihan. Salju yang menutupi permukaan jalan dan atmosfer Finlandia yang sunyi seolah menambah kesenduan dari akhir film A Man and A Woman. Belum lagi ditambah dengan musik orkestra garapan Bang Jun Seok yang sangat mengharukan. Jangan lupa untuk menyiapkan tisu atau sapu tangan karena menit-menit menjelang akhir film cukup krusial dan emosional.

Bagi Anda yang tertarik untuk menonton film A Man and A Woman ini bisa langsung mengaksesnya di beberapa website khusus untuk streaming. Siapkan paket internet cepat dan murah Anda jika ingin menontonnya langsung di ponsel. Selamat menonton dan selamat menangis bersama film A Man and A Woman ini!

Thoughts on movie: A heartwrenching story. I give it 4/5 stars.

You may also like

Leave a Reply